Rabu, 24 Agustus 2016

Pengertian Relasi dan Fungsi

A. Relasi
Relasi adalah suatu aturan yang memasangkan anggota himpunan satu ke himpunan lain.

Suatu relasi dari himpunan A ke himpunan B adalah pemasangan atau perkawanan atau korespondensi dari anggota-anggota himpunan A ke anggota-anggota himpunan B.

Jika diketahui himpunan A = {0, 1, 2, 5}; B = {1, 2, 3, 4, 6}, maka relasi “satu kurangnya dari” himpunan A ke himpunan B dapat disajikan dalam diagram panah, diagram Cartesius, himpunan pasangan berurutan, dan dengan rumus.

Relasi dari himpunan A ke himpunan B adalah aturan yang memasangkan anggota himpunan A dan anggota himpunan B dengan aturan tertentu.

Kali ini, diperkenalkan 4 cara menyatakan relasi, yaitu:
1. Dengan Himpunan Pasangan Berurutan
2. Dengan Diagram Panah
3. Dengan Diagram Cartesius
4. Dengan Rumus
1. Himpunan Pasangan Berurutan.
Himpunan yang anggotanya semua pasangan berurutan (x,y) dinamakan himpunan pasangan berurutan.

2. Diagram Panah
Langkah-langkah cara menyatakan relasi dengan diagram panah:
1.Membuat dua lingkaran atau ellips
2.Untuk meletakkan anggota himpunan A dan anggota himpunan B x=A diletakkan pada lingkaran A dan y=B diletakkan pada lingkaran B
3. x dan y dihubungkan dengan anak panah
4. Arah anak panah menunjukkan arah relasi
5. Anak panah tersebut mewakili aturan relasi
3. Diagram Cartesius
Pada diagram cartesius diperlukan dua salib sumbu yaitu; sumbu mendatar (horisontal) dan sumbu tegak (vertikal) yang berpotongan tegak lurus.
1. x=A diletakkan pada sumbu mendatar
2. y=B diletakkan pada sumbu tegak
3. Pemasangan (x,y) ditandai dengan sebuah noktah yang koordinatnya ditulis sebagai pasangan berurutan (x,y)
4. Dengan Rumus
f(x) = x + 1, di mana x = {0, 1, 2, 5} dan f(x) = {1, 2, 3, 4, 6}

B. Fungsi
Definisi Fungsi
Fungsi f adalah suatu relasi yang menghubungkan setiap anggota x dalam suatu himpunan yang disebut daerah asal (Domain) dengan suatu nilai tunggal f(x) dari suatu himpunan kedua yang disebut daerah kawan (Kodomain).
Himpunan nilai yang diperoleh dari relasi tersebut disebut daerah hasil ( Range).
Untuk memberi nama suatu fungsi dipakai sebuah huruf tunggal seperti f, g, dan huruf
lainnya. Maka f(x), yang di baca “ f dari x “ menunjukkan nilai yang diberikan oleh f
kepada x. Misalkan : f(x) = x+ 2, maka f(3) = 3 + 2.
Sifat Fungsi :
1) Fungsi f :A? B disebut fungsi INTO. Karena ada kodomain yang tidak berpasangan dengan domain.
2) Fungsi f :A? B disebut fungsi INJEKTIF. Karena setiap kodomain berpasangan tepat satu dengan domain.
3) Fungsi f:A? B disebut fungsi SUBJEKTIF. Karena setiap kodomain berpasangan dengan domain.
4) Fungsi f:A? B disebut fungsi BIJEKTIF. Karena sebuah fungsi bersifat injektif sekaligus subjektif (korespondensi satu-satu). Maka jumlah anggota himpunan harus sama n(A) = n(B)
Pemetaan khusus yang terjadi jika setiap anggota A dipasangkan tepat satu ke anggota B dan anggota B dipasangkan tepat satu dengan anggota A disebut KORESPONDENSI SATU SATU. Korespondensi satu-satu akan mungkin terjadi jika banyaknya anggota A = banyaknya anggota B.

Jenis-Jenis Fungsi
Jenis-jenis fungsi yang perlu kita ketahui diantaranya adalah :
A). Fungsi Konstan
Suatu fungsi f : A?B ditentukan dengan rumus f(x) disebut fungsi konstan. Apabila untuk setiap anggota domain fungsi selalu berlaku f(x) = C, di mana C bilangan konstan.
B). Fungsi Identitas
Fungsi Identitas adalah suatu fungsi f yang dinyatakan dalam rumus f(x) = x. Fungsi identitas sering dinyatakan dengan lambang I sehingga I(x) = x.
C). Fungsi Modulus Atau Fungsi Harga Mutlak
Fungsi modulus adalah fungsi f yang memuat bentuk nilai mutlak.
D). Fungsi Linear
Suatu fungsi f(x) disebut fungsi linear apabila fungsi itu ditentukan oleh f(x) = ax + b, di mana a ? 0, a dan b bilangan konstan dan grafiknya berupa garis lurus.
E). Fungsi Kuadrat
Suatu fungsi f(x) disebut fungsi kuadrat apabila fungsi itu ditentukan oleh f(x) = ax2 + bx + c, di mana a ? 0 dan a, b, dan c bilangan konstan dan grafiknya berupa parabola.
F). Fungsi Tangga (Bertingkat)
Suatu fungsi f(x) disebut fungsi tangga apabila grafik fungsi f(x) berbentuk interval-interval yang sejajar.
G). Fungsi Modulus
Suatu fungsi f(x) disebut fungsi modulus (mutlak) apabila fungsi ini memetakan setiap bilangan real pada domain fungsi ke unsur harga mutlaknya.
H). Fungsi Ganjil Dan Fungsi Genap
Suatu fungsi f(x) disebut fungsi ganjil apabila berlaku f(–x) = –f(x) dan disebut fungsi genap apabila berlaku f(–x) = f(x). Jika f(–x) ? –f(x) maka fungsi ini tidak genap dan tidak ganjil.
Fungsi Invers
Semua himpunan yang dipetakan oleh fungsi mempunyai invers. Invers dari himpunan tersebut dapat berupa fungsi atau bukan fungsi. Suatu fungsi f akan mempunyai invers, yaitu f –1 jika dan hanya jika fungsi f bijektif atau dalam korespondensi satu-satu. Untuk menentukan fungsi invers dari suatu fungsi dapat dilakukan dengan cara berikut ini.
a. Buatlah permisalan f(x) = y pada persamaan.
b. Persamaan tersebut disesuaikan dengan f(x) = y, sehingga ditemukan fungsi dalam y dan nyatakanlah x = f(y).
c. Gantilah y dengan x, sehingga f(y) = f –1(x).
Aljabar Fungsi
a. Penjumlahan f dan g didefinisikan (f + g) (x) = f(x) + g(x).
b. Pengurangan f dan g didefinisikan (f – g)(x) = f(x) – g(x).
c. Perkalian f dan g didefinisikan (f +g)(x) = f(x) + g(x).
Fungsi Komposisi

Komposisi fungsi adalah penggolongan beberapa fungsi menjadi sebuah fungsi
 
 
-Semoga Bermanfaat-

Pengertian Bilangan Bulat

Pengertian himpunan
Himpunan adalah merupakan kumpulan benda atau objek yang dapat didefinisikan dengan jelas.

Untuk lebih jelas dalam memahami pengertian himpunan, silahkan baca artikel tentang pengertian himpunan, macam-macam himpunan dan contohnya.

Pengertian bilangan
Bahwa yang dimaksud dengan bilangan adalah suatu konsep dalam bidang matematika yang digunakan sebagai pencacahan dan pengukuran. Untuk lebih jelas lagi tentang pengertian bilangan, silahkan baca artikel tentang pengertian bilangan dan contohnya.


Pengertian Bilangan Bulat
Bilangan Bulat adalah himpunan bilangan yang terdiri dari bilangan bulat negatif, nol dan bilangan bulat positif. Sehingga dapat disimpulkan bahwa bilangan bulat adalah himpunan bilangan yang mencakup bilangan cacah, bilangan asli, bilangan nol, bilangan satu, bilangan prima, bilangan komposit dan bilangan negatif.

Atau kesimpulan lain dari bilangan bulat adalah himpunan bilangan yang mencakup seluruh bilangan, kecuali bilangan imajiner, irrasional dan pecahan.

Untuk lebih jelas lagi dalam memahami pengertian bilangan bulat, silahkan perhatikan gambar struktur bilangan berikut!


Gambar: Srtuktur Bilangan

Pengertian Bilangan Bulat Positif Bilangan bulat positif adalah himpunan bilangan yang dimulai dari bilangan satu ke atas. Contoh bilangan bulat positif adalah: { 1, 2, 3, 4, 5, ....}

Pengertian bilangan bulat negatif Bilangan bulat negatif adalah himpunan bilangan yang dimulai dari bilangan negatif satu ke bawah. Contoh bilangan bulat negatif adalah: { .... -5, -4, -3, -2, -1 }

Sehingga dapat ditarik kesimpulan bahwa cakupan dari himpunan bilangan bulat adalah himpunan bilangan bulat negatif, bilangan nol dan himpunan bilangan bulat positf. Untuk lebih memahami tentang pengertian bilangan bulat, perhatikan gambar bagan di bawah ini!

Gambar: Garis Bilangan pada Himpunan Bilangan Bulat
 
 
 
-Semoga Bermanfaat-


Selasa, 23 Agustus 2016

Kondisi dan Geografi Penduduk Indonesia

Kondisi Geografis dan Penduduk. Dalam usaha memahami perkembangan lingkungannya, diharapkan manusia dapat mengenali unsur-unsur lingkunganmyang berpengaruh terhadap kehidupannya, baik unsur fisik (alam) maupun unsur sosial. Unsur lingkungan fisik disebut sebagai kondisi geografis, sedangkan unsur lingkungan sosial dalam ilmu geografi lebih mengarah kepada kondisi penduduk yang dipengaruhi kondisi geografisnya. Oleh karena itu keterkaitan antara kondisi geografis dengan kondisi penduduknya sangat erat.

1. Kondisi Geografis suatu Wilayah
Yang termasuk unsur-unsur lingkungan fisik geografis meliputi unsur letak, relief, cuaca dan iklim, jenis tanah, flora dan fauna, sumber daya air dan kelautan, serta sumber daya mineral. Berkaitan dengan usaha memahami ciri-ciri unsur lingkungan fisik geografis suatu wilayah, kita coba menerapkannya dalam mengkaji kondisi geografis wilayah Indonesia.
a. Letak
Kondisi letak suatu wilayah biasanya berhubungan dengan unsur lokasi, posisi, batas, bentuk, dan luas. Setelah kalianmengamati peta ASEAN di atas, maka kalian akan memperoleh fakta tentang kondisi letak geografis wilayah Indonesia sebagai berikut.
  • Lokasi wilayah Indonesia berada di kawasan Asia Tenggara.
  • Posisi astronomis wilayah Indonesia berada di antara 60LU- 110LS dan 950BT-1410BT.
  • Posisi geografis wilayah Indonesia berada di antara Benua Asia dan Australia serta di antara Samudra Pasifik dan Samudra Hindia.
  • Batas-batas wilayah Indonesia, sebelah utara dengan Laut Andaman, Selat Malaka, Selat Singapura, Laut Cina Selatan, negara Malaysia, negara Filipina, Laut Sulawesi, dan Samudra Pasifik. Di sebelah selatan berbatasan dengan Samudra Hindia, Laut Timor, negara Timor Leste, dan Laut Arafura. Di sebelah barat berbatasan dengan Samudra Hindia, dan di sebelah timur berbatasan dengan negara Papua Nugini.
  • Wilayah negara Indonesia berbentuk Kepulauan(archipelago) dengan jumlah seluruh pulaunya 17.504 buah.
  • Luas wilayah Indonesia 5.193.252 km2, terbagi atas wilayah daratan seluas 1.904.569 km2 dan wilayah lautan seluas 3.288.683 km2. Sehingga perbandingan antara luas wilayah daratan dan lautan 2:3.
b. Relief
Relief atau topografi, adalah keadaan tinggi-rendahnya bentuk permukaan bumi. Penampakan alam yang berhubungan dengan relief wilayah daratan terdiri atas pegunungan, gunung, dataran tinggi, dataran rendah, lembah, dan dataran pantai. Sedangkan relief wilayah perairan daratan berupa danau, sungai, rawa, teluk, selat, dan terusan. Penampakan alam relief wilayah perairan laut atau relief dasar laut, terdiri atas bentuk paparan benua, lereng benua, lubuk laut, palung laut, punggung laut, ambang laut, dan gunung laut. Penampakan alam bentuk relief suatu wilayah di permukaan bumi pada peta, sering disajikan dalam bentuk tampilan simbol-simbol warna.
Dengan memperhatikan peta relief wilayah Indonesia di atas, maka kitaakan mendapatkan informasi tentang kondisi relief wilayah Indonesia, antara lain.
1) Berdasarkan reliefnya, bentuk muka bumi Indonesia dibagi menjadi tiga wilayah, yaitu:
  • relief wilayah Indonesia Barat, meliputi kawasan Pulau Jawa, Sumatra, Kalimantan, Bali, dan perairan di sekitarnya. Relief dasar laut wilayah perairan ini disebut Paparan/Dangkalan Sunda dengan kedalaman kurang dari 200 m.
  • relief wilayah Indonesia Tengah, meliputi kawasan Pulau Sulawesi, Kepulauan Maluku, Kepulauan Nusa Tenggara, dan perairan sekitarnya. Relief dasar lautwilayah ini merupakan laut dalam di atas 200 m.
  • relief wilayah Indonesia Timur, meliputi kawasanKepulauan Aru, Pulau Misool, Pulau Salawat, Pulau Arafura, Kepulauan Tanimbar, Pulau Papua, dan perairan sekitarnya. Relief dasar laut wilayah ini disebut Paparan/Dangkalan Sahul dengan kedalaman kurang dari 200 m.
2) Relief daratan Indonesia didominasi oleh relief berupa.
  • Pegunungan, yaitu bagian muka bumi yang lebih tinggi dari daerah sekitarnya dengan bentuk memanjang.
  • Gunung, yaitu bagian muka bumi yang lebih tinggi daerah sekitarnya dengan bentuk seperti bidang kerucut.
  • Dataran Tinggi, adalah wilayah permukaan bumi yang lebih tinggi dari daerah sekitar dan pada bagian atasnya mendatar.
  • Dataran Rendah, yaitu bagian permukaan bumi yang lebih rendah dari daerah sekitar berbentuk dataran.
  • Pantai, yaitu wilayah daratan yang paling rendah berbatasan dengan perairan laut.
c. Cuaca dan Iklim
Dalam ilmu geografi yang termasuk unsur-unsur cuaca dan iklim, yaitu curah hujan, arah angin, tekanan udara, suhu udara, dan kelembaban udara. Unsur-unsur cuaca dan iklim merupakan bagian dari kondisi geografis.
Ciri kondisi cuaca dan iklim yang terjadi di Indonesia sebagai berikut.
  • Kondisi iklim Indonesia dipengaruhi angin muson, yaitu angin yang bertiup setiap enam bulan sekali dan selalu berganti-ganti arah. Adanya perubahan arah angin muson ini mengakibatkan kondisi iklim di Indonesia terbagi menjadi dua musim setiap tahunnya, yaitu musim kemarau dan musim penghujan. Antara periode bulan April – September berhembus angin muson tenggara yang membawa pengaruh musim kemarau. Sebaliknya antara periode bulan September – April berhembus angin muson barat yang mengakibatkan musim penghujan.
  • Indonesia dilalui garis khatulistiwa, maka wilayahnya mendapat pemanasan sinar matahari yang cukup sepanjang tahun. Akibatnya tingkat penguapan tinggi, udara cukup banyak mengandung uap air, dan hujan sering turun. Walaupun musim kemarau, tetapi dengan kondisi tingkat penguapan yang cukup tinggi, maka di beberapa tempatwilayah Indonesia sering terjadi hujan.
  • Wilayah Indonesia terletak di antara dua samudra yang luas,sehingga kondisi iklim di Indonesia mendapat pengaruh iklim laut yang lembab. Kandungan uap air di udara sebagian besar berasal dari hasil penguapan perairan laut. Jadi semakin luas wilayah laut yang dilalui sinar matahari, semakin tinggi tingkat penguapan maka kondisi udara semakin lembab.
d. Flora dan Fauna
Fauna adalah jenis hewan yang hidup di suatu kawasan. Sedangkan flora, adalah spesies tumbuh-tumbuhan yang hidup di suatu kawasan dan tumbuh secara alami. Flora dan fauna bisa menjadi sumber kehidupan yang dapat diambil manfaatnya untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia, yaitu sebagai sumber bahan makanan, pakaian, perumahan, alat transportasi, dan lain-lain.
 
Baca Juga:
 
Menurut kondisi geografis wilayahnya, jenis flora dan fauna di Indonesia terbagi menjadi tiga macam tipe, sebagai berikut.
  • Tipe Asiatis, yaitu tipe flora dan fauna yang sejenis dengan di daratan Asia dan hidup di wilayah Indonesia bagian barat (Sumatra, Jawa, dan Kalimantan).
  • Tipe Australia, yaitu tipe flora dan fauna yang sejenis dengan di daratan Australia dan hidup di bagian timur wilayah Indonesia (Papua dan pulau-pulau sekitarnya).
  • Tipe peralihan, yaitu tipe flora dan fauna yang tidak di jumpai di Daratan Asia maupun Australia. Tipe jenis ini hidup di wilayah Indonesia bagian tengah (Sulawesi dan Kepulauan Nusa Tenggara).
e. Jenis Tanah
Tanah merupakan bagian lapisan pembentuk kulit bumi paling atas dan sangat tipis yang terbentuk dari berbagai campuran batuan induk yang telah lapuk, air, udara, jasad tumbuhan dan binatang yang telah mati. Jenis tanah yang tersebar di berbagai wilayah tidak sama, hal ini disebabkan oleh adanya perbedaan jenis batuan induk, curah hujan, kekuatan pancaran sinar matahari, bentuk muka bumi, tumbuhan penutup tanah, dan pengaruh aktivitas makhluk hidup.  
Jenis tanah yang tersebar di Kepulauan Indonesia berjumlah sekitar 22 jenis tanah. Tidak semua jenis tanah tersebut subur, bergantung kepada ada tidaknya tiga unsur penyebab kesuburan tanah, yaitu unsur hara, kandungan air, dan susunan butir tanah. Tanah yang paling dikenal di Indonesia karena tingkat kesuburannya cukup tinggi, antara lain tanah vulkanik (berasal dari pelapukan abu vulkanik), tanah aluvial (hasil endapan erosi di sekitar aliran sungai), tanah humus (hasil pembusukan bahan-bahan organik), tanah podzolit (tanah di pegunungan dengan tinggi curah hujan). Jenis tanah lain tapi kurang subur yaitu tanah gambut (tanah rawa) dan tanah kapur (tanah di daerah berkapur)..

f. Sumber Daya Air dan Kelautan
Sumber daya air yang ada di daratan dan sumber daya kelautan, merupakan potensi gejala alam yang sangat dibutuhkan oleh makhluk hidup khususnya manusia. Sumber daya air adalah segala potensi air yang dikandung udara, di permukaan bumi, di dalam tanah, dan proses yang menyertai yang dapat memberikan manfaat untuk kepentingan semua makhluk hidup. Bentuk-bentuk sumber daya air di daratan terdiri dari sungai, danau rawa, air rawa, air mata air (air tanah), dan air artesis. Di Indonesia bentuk-bentuk sumber daya air ini hampir tersebar merata di seluruh wilayah

Sumber daya kelautan adalah segala potensi yang dikandung oleh permukaan, di dalam, dan di dasar laut yang dapat memberikan manfaat. Sumber daya kelautan dapat kita manfaatkan sebagai sumber perikanan, energi, jalur transportasi, keseimbangan iklim bumi, persediaan air, obat-obatan, sarana olah raga, dan lain-lain. 71% wilayah negara Indonesia merupakan wilayah perairan laut yang tersebar merata menyatukan seluruh pulau dan kaya dengan berbagai jenis spesies ikan serta hasil-hasil laut lainnya, seperti rumput laut, berbagai jenis karang, mutiara, garam, mineral, agar-agar, lain-lain.

g. Sumber Daya Mineral
Sumber daya mineral adalah segala potensi alam berupa bahan galian yang terdapat pada perut bumi diperoleh melalui proses pertambangan (eksplorasi). Oleh karena itu sumber daya mineral sering disebut sebagai bahan galian tambang. Sumber daya mineral meliputi barang-barang galian tambang berupa energi migas dan nonmigas, mineral logam, serta batu nonlogam. Contohnya, minyak bumi, batu bara, bauksit, timah, nikel, tembaga, besi, perak, emas, aspal alam, belerang, gas alam, dan lain-lain.  
2. Kondisi Penduduk Suatu Wilayah
Penduduk adalah orang-orang yang mendiami suatu wilayah di muka bumi. Kondisi penduduk tiap wilayah di permukaan bumi berbeda-beda, perbedaan ini dapat dilihat dari faktor kuantitas dan kualitasnya. Kuantitas penduduk adalah kondisi penduduk di suatu wilayah berkenaan dengan faktor jumlah, tingkat pertumbuhan, susunan, tingkat kepadatan, dan persebarannya. Sedangkan kualitas penduduk adalah kondisi penduduk di suatu wilayah berkenaan dengan faktor sumber daya manusianya yang meliputi aspek tingkat pendidikannya, tingkat kesehatannya, dan perekonomiannya.

a. Kuantitas Penduduk
Secara kuantitasnya terdapat tiga permasalahan utama penduduk yang dihadapi Indonesia, yaitu jumlah penduduk yang besar, tingkat pertumbuhan penduduk yang tinggi, dan persebaran penduduk yang tidak merata. Jumlah penduduk Indonesia berada pada urutan ke empat setelah negara Cina, India, dan Amerika Serikat. Dari hasil pencacahan jiwa yang di lakukan di Indonesia menunjukkan bahwa jumlah penduduknya terus bertambah. Diperkirakan pada tahun 2005 kondisi jumlah penduduk Indonesia mencapai 241.973 jiwa.  

Faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya perubahan penduduk yaitu kelahiran (fertilitas), kematian (mortalitas), dan perpindahan (migrasi). Bertambah atau berkurangnya jumlah penduduk dinamakan pertumbuhan penduduk. Kondisi laju pertumbuhan di Indonesia terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Sebagai contoh laju pertumbuhan penduduk Indonesia antara tahun 1990-2000 sebesar 1,49%, kemudian antara tahun 2000-2003 terjadi kenaikan, yakni mencapai 1,5%. Berikut ini disajikanpeta pertumbuhan penduduk Indonesia tahun 1990-2000 dan tahun 2000-2003.

Indonesia memiliki masalah persebaran penduduk yang tidak merata dari tiap pulau dan provinsinya. Persebaran penduduk berkaitan dengan kepadatan penduduk. Kepadatan penduduk adalah angka yang menunjukkan perbandingan jumlah rata-rata penduduk dalam satuan wilayah seluas satu kilometer persegi. Faktor-faktor lingkungan geografis yang mempengaruhi persebaran penduduk, antara lain lokasi, iklim, relief, tanah, sumber daya alam, sumber daya air, dan kebudayaan.

b. Kualitas Penduduk
Menyangkut permasalahan kondisi kualitas penduduk yang di hadapi oleh Indonesia, antara lain meliputi kondisi tingkat pendidikan, kesehatan, dan perekonomian. Masalah yang dihadapi bidang pendidikan di Indonesia, yaitu masih rendahnya tingkat pendidikan yang dicirikan oleh jumlah sarana dan prasarana yang belum tersebar merata, dan pendapatan per kapita penduduk yang masih rendah sehingga banyak anak putus sekolah. 

Permasalahan di bidang kesehatan, yaitu masih buruknya kondisi gizi untuk kebutuhan ibu dan bayi, sehingga tingkat kematian bayi masih tinggi, angka usia harapan hidup rendah, kondisi lingkungan masih rendah menyebabkan timbulnya berbagai penyakit, seperti DBD dan flu burung, ketersediaan sarana dan prasarana kesehatan masih minim terutama di daerah-daerah terpencil. Di bidang perekonomian, yaitu masih rendahnya daya beli masyarakat terhadap kebutuhan barang-barang pokok disebabkan tingkat pendapatan per kapita rata-rata masyarakat masih di bawah standar kelayakan hidup, tingkat pengangguran tinggi karena pertambahan jumlah penduduk tidak diimbangi dengan penyediaan lapangan pekerjaan.

3. Kaitan antara Kondisi Geografis dengan Keadaan Penduduknya
Kondisi geografis mempengaruhi kehidupan sosial ekonomi penduduk wilayah tertentu. Oleh sebab itu, manusia dengan segala kecerdasan dan kemauannya berusaha menyesuaikan diri dengan kondisi lingkungan geografisnya atau berupaya mengubah kondisi lingkungan tersebut sesuai dengan kepentingannya. Adanya keragaman kondisi geografis tiap wilayah memunculkan corak mata pencaharian, pola-pola permukiman, tradisi, adat-istiadat, dan aspek kehidupan sosial lainnya.
a. Kehidupan di Wilayah Pantai
Penduduk yang tinggal di wilayah ini umumnya menyelaraskan dirinya sebagai nelayan. Adapun pola permukiman penduduk di wilayah ini berbentuk permukiman yang tersebar secara memanjang (pola linier) mengikuti garis pantai. Di Indonesia, kota-kota pelabuhan yang berkembang pesat, misalnya Jakarta dan Surabaya. Akibatnya aktivitas kehidupan masyarakat di wilayah pantai banyak yang berpindah profesi, misalnya menjadi pedagang, pelayanan jasa, dan lain sebagainya.
b. Kehidupan di Wilayah Dataran Rendah
Penduduk di daerah dataran rendah bertempat tinggal dengan membentuk pola permukiman dengan bentuk linier yang tersebar sejajar dengan arah jalan dan jalur aliran sungai. Adapun pola pemukiman penduduk di daerah kota terutama yang dekat dengan pusat-pusat kegiatan ekonomi memiliki pola permukiman dengan bentuk terpusat atau tersebar melingkari pusat-pusat perekonomian.

Di daerah dataran rendah, umumnya bentuk mata pencaharian penduduk lebih berorientasi kepada bidang pertanian khususnya di daerah pedesaan. Kegiatan pertanian yang dikembangkan yaitu pertanian yang menghasilkan tanaman pangan dan tanaman komoditas. Di wilayah-wilayah yang telah maju, telah berkembang pula kegiatan penduduk yang berorientasi kepada bidang perdagangan, komunikasi, transportasi, dan kepariwisataan. Di samping itu, wilayah dataran rendah banyak dimanfaatkan untuk kepentingan pembangunan gedung-gedung pusat pemerintahan, pusat pendidikan, pusat perbelanjaan, dan lain-lain.

c. Kehidupan di Wilayah Pegunungan
Penduduk yang berada di lokasi ini ada yang tinggal dengan membentuk pola permukiman terpusat sekitar lokasi wisata dan penambangan, ada pula yang bergerombol di sekitar lokasi
tanah perkebunan dan kehutanan terutama mereka selalu mendekati daerah-daerah sumber air. Sebagian besar kondisi mata pencaharian penduduk yang tinggal di wilayah ini, berorientasi kepada bidang perkebunan dan kehutanan. Di daerah-daerah yang kondisi lapisan tanahnya banyak mengandung bahan-bahan tambang, otomatis mereka beraktivitas di bidang penggalian barang-barang tambang. Untuk wilayah-wilayah pegunungan yang dijadikan kawasan wisata, maka orientasi mata pencaharian penduduk lebih memilih untuk berdagang atau pelayanan jasa.
 
 
-Semoga Bermanfaat-

Perbedaan Sketsa Wilayah dan Peta Wilayah

Objek geografi merupakan fenomena-fenomena yang terdapat di alam yang menjadi kajian dalam bidang ilmu geografi. Objek kajian geografi ini terdiri atas objek material dan objek formal. Objek material adalah semua fenomena di muka bumi (geosfer) baik yang bersifat alami (objek fisik) maupun sosial budaya. Objek alami (objek fisik) meliputi segala fenomena di muka bumi yang terbentuk secara alamiah seperti tanah, batuan, gunung, dataran tinggi, hutan, laut, sungai, rawa, danau, dan sebagainya. Sedangkan objek sosial budaya meliputi semua fenomena di muka bumi yang berkaitan dengan aktivitas atau hasil karya manusia seperti jalan raya, pelabuhan udara, pemukiman penduduk, rel kereta api, areal pertanian, dan sebagainya. Objek-objek material geografi tersebut pada peta digambarkan dengan menggunakan simbol-simbol tertentu.

Sketsa Wilayah yang Menggambarkan Objek Geografi
a. Pengertian dan Syarat-syarat Kelengkapan Sketsa
Sketsa wilayah dapat diartikan sebagai gambar sederhana atau lukisan cepat dari suatu wilayah. Denah lokasi merupakan salah satu contoh sketsa dari suatu wilayah. Seperti halnya peta, sketsa atau denah memiliki fungsi untuk menunjukkan lokasi atau letak tempat-tempat tertentu di suatu wilayah. Namun bedanya, pada sketsa umumnya jarang mencantumkan skala, sedangkan pada peta, skala merupakan suatu hal yang mutlak harus ada. Sebagai patokan umum untuk mempermudah menemukan lokasi yang dimaksudkan, pada sketsa biasanya digambarkan tempat-tempat atau fenomena-fenomena alam maupun budaya yang banyak dikenal orang.

Mengingat fungsinya untuk menunjukkan lokasi, maka sketsa juga harus dilengkapi dengan beberapa persyaratan seperti judul, simbol dan lettering, serta penunjuk arah.
1) Judul
Judul merupakan gambaran informasi yang ingin dijelaskan oleh pembuatnya. Oleh karena itu judul penting dicantumkan pada sketsa.
2) Simbol dan lettering
Simbol merupakan tanda-tanda konvensional yang digunakan untuk menggambarkan bentuk objek yang sebenarnya. Simbol dapat digambarkan dengan sesederhana mungkin. Namun, agar pembaca dapat mengerti maksud simbol yang dibuat, sebaiknya disertai dengan penulisan nama objek geografi yang telah digambar (lettering).  
3) Penunjuk arah
Penunjuk arah merupakan suatu hal yang mutlakdicantumkan agar pembaca dapat dengan mudah menentukan arah mata angin, sehingga dapat menyesuaikan dengan arah sebenarnya di lapangan. Penunjuk arah pada sketsa dapat menggunakan tanda anak panah dengan huruf U yang menunjukkan arah utara diujungnya.

Peta Wilayah yang Menggambarkan Objek Geografi
Persebaran objek-objek geografi di muka bumi tidak merata. Setiap daerah memiliki karakteristik tersendiri. Contohnya, di bagian barat Pulau Sumatera wilayahnya didominasi oleh jalur Pegunungan Bukit Barisan, sedangkan di bagian timurnya berupa dataran rendah dan memiliki banyak sungai dan rawa.  Kita dapat mengetahui persebaran objek-objek geografi tersebut dari peta, karena peta merupakan salah satu media yang dapat memberikan informasi tentang persebaran objek geografi di muka bumi. Dengan membaca simbol-simbol pada peta kita dapat mengetahui persebaran objek-objek geografi tersebut di muka bumi.

a. Persebaran Objek Geografi pada Peta Umum
Peta umum merupakan peta yang menggambarkan semua kenampakan umum dari suatu wilayah. Oleh karena itu semua kenampakan alam, baik yang bersifat alami (objek fisik) maupun yang berupa objek sosial budaya digambarkan pada peta.
b. Persebaran Objek Geografi pada Peta Tematik
Peta tematik adalah peta yang menggambarkan kenampakan-kenampakan khusus dari suatu wilayah atau peta yang menggambarkan satu tema tertentu. Oleh karena itu, objek geografi yang digambarkan pada peta tematik juga terbatas, sesuai dengan judul atau tema yang ditonjolkan. Contohnya pada peta Persebaran Barang Tambang di Indonesia, objek geografi yang diambarkan terbatas pada jenis-jenis barang tambang dan daerah persebarannya saja. Sedangkan objek-objek lainnya tidak digambarkan. Penggunaan simbol huruf yang berbeda menunjukkan jenis barang tambang yang berbeda. Begitu juga pada peta-peta tematik lainnya, objek geografi yang digambarkan sesuai dengan judul dan tema yang ingin disampaikan.
c. Membuat Peta Wilayah yang Menggambarkan ObjekGeografi Langkah-langkah yang harus ditempuh untuk membuat peta tematik adalah seperti berikut ini. 1) Tahap Persiapan Tahap ini meliputi kegiatan pengumpulan data dan informasi yang diperlukan sesuai dengan tema peta yang ingin kita buat. Secara umum data dapat dikelompokkan menjadi dua jenis, yaitu data terestrial (data primer) dan data dokumentasi (data sekunder). Data terestrial adalah data yang diperoleh langsung dari lapangan, baik melalui pengamatan, pengukuran, maupun hasil wawancara. Sedangkan data dokumentasi adalah data yang diambil dari sumber yang sudah tersedia seperti dari buku, literatur, atau dokumen dari instansi-instansi tertentu. Seperti halnya ketika kita ingin membuat peta tentang kepadatan penduduk di suatu daerah, maka kita dapat mencari data dan informasi kependudukan ke BPS (Badan Pusat Statistik). Begitu juga jika kita akan membuat peta curah hujan, maka untuk data sekunder dapat kita peroleh dari BMG (Badan Meteorologi dan Geofisika).
Setelah data yang diperlukan terkumpul, langkah selanjutnya adalah memilih dan mengelompokkan (mengklasifkasi) data-data sejenis untuk memudahkanpembacaannya. Kemudian langkah berikutnya adalah mempersiapkan peta dasar. Peta dasar adalah peta suatuwilayah yang belum diberi data. Peta dasar yang dipersiapkan sesuai dengan daerah yang akan kita petakan.
2) Tahap Pelaksanaan Setelah data terkumpul dan peta dasar sudah tersedia, baru kita mulai pembuatan peta dengan mulai menentukan simbol simbol yang ingin digunakan dalam peta yang akan kita buat. Sebagai contoh, jika kita ingin menggunakan simbol titik untuk menggambarkan persebaran penduduk, maka kita tentukan dulu berapa jumlah penduduk yang dapat diwakili oleh setiap titiknya, karena dapat kita bayangkan berapa ribu atau juta titik yang harus kita gambarkan jika satu titik mewakili satu jiwa. Selain itu, kita juga dapat menggunakan simbol lain, seperti warna yang berbeda, arsiran, atau degradasi warna. Langkah selanjutnya adalah memasukan data yang didapat pada peta dasar sesuai dengan simbol yang kita tentukan.

Baca Juga:
3) Tahap Akhir (penyelesaian) Pada tahap ini kita lakukan kegiatan editing (menyeleksi) dan mengevaluasi serta memberikan nilai seni pada peta yang kita buat. Menarik tidaknya peta yang kita buat tergantung pada nilai seni yang kita berikan. Selain itu, dalam membuat peta persebaran objek geografi juga harus tetap memperhatikan unsur-unsur kelengkapan peta. Unsur-unsur tersebut antara lain berupa judul, skala, simbol, legenda, tanda orientasi, garis grid, garis tepi peta, serta tahun pembuatan, dan sumber peta.
DR - BeSmart
 
 
-Semoga Bermanfaat-

Minggu, 21 Agustus 2016

Perbedaan Peta, Atlas dan Globe

Peta
Kata peta pasti sudah sangat familiar di telinga kita. Anda pasti sering melihat atau bahkan pernah menggunakan peta, tetapi mungkin Anda masih kesulitan untuk mendeskripsikan pengertian dari peta. Sebenarnya Anda tidak perlu menghafal definisi dari peta, cukup dengan melihat peta seharusnya Anda sudah bisa mendefinisikan peta.
Peta adalah gambaran sebagaian atau seluruh wilayah di permukaan bumi dengan berbagai kenampakannya pada bidang datar yang diperkecil dengan menggunakan skala tertentu.
Peta adalah gambaran permukaan bumi pada bidang datar dengan skala tertentu melalui suatu sistem proyeksi. Peta bisa disajikan dalam berbagai cara yang berbeda, mulai dari peta konvensional yang tercetak hingga peta digital yang tampil di layar komputer. Istilah peta berasal dari bahasa Yunani mappa yang berarti taplak atau kain penutup meja
Peta adalah gambaran konvensional permukaan bumi atau benda angkasa, yang meliputi perwujudan, letak, maupun data yang berkaitan, seperti tampaknya apabila dilihat dari atas. Sumbernya dapat berupa hasil pengukuran, foto udara, atau citra satelit.
Syarat- syarat peta
Syarat- syarat peta secara umum
  1. Jelas dan tidak membingungkan
  2. Mudah dimengerti maknanya
  3. Memberi gambaran mirip dengan wujud dan letak yang sebenarnya
  4. Sedap dipandang, menarik, rapi dan bersih
Syarat- syarat peta secara khusus
a) Skala angka (numerik) : skala yang dinyatakan dengan angka. Contoh pada peta Indonesia skala 1:20.000.000 artinya 1 cm pada peta sama dengan 20.000.000 cm di lapangan atau 200 km.
b) Skala garis (grafis) : skala yang ditunjukkan dalam bentuk garis
c) Orientasi peta adalah petunjuk arah pada peta yang menunjukkan arah utara. Umumnya diberi simbol sederhana berupa anak panah dan diberi huruf U.
d) Sumber peta, dicantumkan adar diketahui dari mana sumber peta, data peta, dan pembuatnya.
e) Tahun pembuatan peta atau penerbitan peta, penting untuk kemugkinan perubahan data dalam waktu tertentu.
f) Inset peta, berfungsi sebagai petunjuk lokasi daerah yang dipetakan terhadap daerah di sekitarnya. Inset peta dapat dibedakan menjadi dua macam:
  1. Inset pembesaran berfungsi untuk memperjelas informasi penting dari suatu lokasi
  2. Inset lokasi wilayah, berfungsi memberikan gambaran yang baik mengenai posisi geografi daerah yang dipetakan.
g) Warna peta, mempresentasikan objek di lapangan sehingga memiliki kemiripan dengan objek yang sesungguhnya di lapangan. Contoh : warna biru untuk menggambarkan perairan dan hijau untuk dataran rendah.
h) Tulisan(lettering), berfungsi memberikan penjelasan terhadap informasi lokasi, letak, dan kenampakan objek geografi di dalam peta. Penggunaan tipe huruf adalah, sebagai berikut:
  1. Huruf romawi digunakan untuk menuliskan nama provinsi, ibu kota, dan kota-kota besar,
  2. Huruf italic atau miring digunakan untuk menulis kenampakan air seperti laut, teluk, pelabuhan dan sebagainya.
  3. Huruf gothic digunakan untuk menulis kenampakkan hypsografi, seperti pegunungan, lembah, dan sejenisnya
  4. Huruf gothic miring digunakan untuk menulis kenampakkan medan buatan, seperti jalan raya, sekolah, dan sejenisnya.
i) Garis tepi peta berfungsi membatasi peta dengan semua komponen peta antara suatu daerah yang dipetakan dengan daerah di sekitarnya.
j) Garis astronomi, berfungsi memberikan informasi posisi atau letak absolut suatu daerah yang dipetakan berdasarkan letak lintang dan bujurnya.
k) Legenda peta keterangan yang diperlukan peta pada umumnya menyajikan keterangan simbol, tanda, atau singkatan yang digunakan pada.
Simbol pada peta dapat dibedakan menjadi bentuknya sebagai berikut:
(1) Simbol menurut sifatnya
  • Simbol kualitatif adalah simbol pada peta yang mencerminkan jumlah, angka-angka atau volume tertentu
  • Simbol kuantitatif adalah simbol yang memuat unsur nilai, angka, atau jumlah.
(2) Simbol menurut bentuknya
  • Simbol titik digunakan untuk menandai letak suatu tempat, yaitu titik, kotak, segitiga dan sebagainya
  • Simbol garis digunakan untuk kenampakan jalan raya, sungai, batas administrasi, dan sejenisnya
  • Simbol luasan digunakan untuk kenampakan seperti hutan, lahan pertanian dan perkebunan, pemukiman penduduk, iklim, curah hujan, dan sejenisnya
  • Simbol warna digunakan untuk kenampakkan seperti laut, sungai, dataran rendah, dan sejenisnya
Jenis peta
  1. Peta induk/ peta dasar; Peta induk merupakan hasil survei permulaan dari geodesi, yang dapat digunakan untuk membuat peta- peta lain dan masih membutuhkan materi- materi tambahan serta hanya mencakup data- data pokok atau penting
  2. Peta topografi; Peta yang menggambarkan kenampakan umum permukaan bumi secara detail.
  3. Peta tematik; Peta yang menampilkan tema tertentu atau khusus. Peta tematik meliputi peta dinamik (peta yang menggambarkan gerakan suatu data) dan statistik
Bentuk peta
  1. Peta analog
    1. Peta planimetri dibuat pada bidang datar dengan menggunakan media kertas, kain, atau kayu triplek.
    2. Peta streometri, Peta yang dibuat berdasarkan bentuk permukaan bumi yang sebenarnya
  2. Peta digital Peta yang dibuat dengan menggunakan media komputer sehingga apabila ada pembaruan dapat dilakukan dengan cepat.
Atlas
atlas
Atlas adalah sekumpulan peta yang dijilid satu dalam bentuk buku dengan bahasa, simbol, dan proyeksi yang umumnya seragam
Syarat- syarat atlas
1.  Menggambarkan suatu daerah dengan data yang akurat
2. Memiliki formulasi warna atau simbol lain yang tepat sehingga tampak menarik
3. Menggunakan proyeksi peta tertentu yang disesuaikan dengan tujuan
4. Memiliki atribut dan informasi yang lengkap
Jenis-jenis atlas
a. Atlas nasional
b. Atlas dunia
c. Atlas semesta
Penggunaan atlas;atlas dapat digunakan sebagai sumber informasi geografi berikut:
  1. Bentuk fisik suatu negara atau benua
  2. Sistem tata surya, rasi bintang, peta langit, dan tata koordinat bintang
  3. Letak astronomis
  4. Kondisi fisik bumi
  5. Letak sumber daya alam potensial
  6. Agihan atau persebaran suatu objek tertentu serta pertumbuhan sosial ekonomi dan budaya penduduk di  dunia.
Globe
Globe adalah model tiruan bola bumi yang memberikan gambaran tentang bentuk bumi, sehingga mendekati bentuk yang sebenarnya.
Kedudukan dan penggunaan Globe
Kedudukan globe agak condong, sesuai dengan kemiringan sumbu bumi, yaitu membentuk sudut 661/2  terhadap garis ekliptika. Globe dapat digunakan untuk keperluan pengetahuan berikut :
1. Mengetahui proses gerhana
2. Mengetahui proses perubahan musim
3. Menghitung pembagian waktu
4. Mengetahui pembagian iklim
5. Membandingkan luas daratan dengan lautan di permukaan bumi
6. Sebagai media peragaan bentuk bumi dan rotasi’
7. Mengetahui skala nominal tentang jarak, bentuk dan luas
8. Menentukan jenis proyeksi untuk pemetaan
Mencari Informasi Geografi pada Peta, Atlas dan Globe
Informasi secara global dari peta; Peta menggambarkan informasi keruangan yang dapat digunakan untuk berbagai keperluan dan data dapat digunakan kembali untuk keperluan visual. Data yang dimasukkan ke dalam peta dapat berupa simbol-simbolyang berfungsi menggambarkan sebagian atau seluruh permukaan bumi serta kenampakan-kenampakan atau fenomena yang ada.
Informasi secara global dari atlas
  1. Indeks; Mempermudah pengguna atlas dalam mencari dan menemukan informasi letak suatu objek unsur-unsur geografi lain yang disusun urut menurut objek.
  2. Daftar isi; Merupakan petunjuk tentang isi atlas itu sendiri secara urut setiap halaman.
  3. Garis lintang dan garis bujur; Garis lintang dan garis bujur dapat digunakan untuk mencari informasi geografi, misalnya Indonesia terletak di antara6008’ LU – 110LS dan antara 94045’ BT – 141005’ BT.
  4. Informasi secara global dari globe
    1. Garis lintang
    2. Garis bujur
Sebuah globe yang ditempatkan pada tempatnya seperti pada gambar tersebut dapat diputar-putar. Hal itu melambangkan bahwa bumi berputar pada porosnya (rotasi). Gerakan rotasi bumi dan Kutub Utara-Selatan merupakan grid geografi. Grid geografi ini terdiri atas sejumlah garis utara-selatan dan timur-barat. Grid yang menghubungkan kutub-kutub bumi disebut meridian atau bujur. Garis bujur besarnya antara 0°-360°. Bujur 0° dimulai di Greenwich, sebuah kota di timur Kota London, Inggris. Garis bujur yang berada di sebelah barat Greenwich disebut garis bujur barat (BB), besarnya 0°–180°. Garis yang berada di sebelah timur Greenwich disebut garis bujur timur (BT), besarnya 0°–180°. Garis bujur digunakan untuk menentukan waktu dan tanggal. Garis bujur 0° ditetapkan sebagai titik awal perhitungan waktu internasional yang dikenal sebagai waktu Greenwich Mean Time (GMT). Pertemuan antara garis 180° BB dan 180° BT ditetapkan sebagai garis batas tanggal internasional. Grid yang menghubungkan arah timur-barat sejajar Equator disebut pararel atau lintang. Garis lintang yang berada di utara Equator disebut garis lintang utara (LU). Garis lintang yang berada di sebelah selatan Equator disebut garis lintang selatan (LS). Garis lintang besarnya antara 0°-90°.
Kalau kamu perhatikan, di globe juga terdapat angka 66 ½° atau 23 ½°. Apa arti garis-garis dan angka 66½° atau 23½°? Pada globe, sumbu bumi tidak tegak lurus pada lintasan semu matahari. Selain rotasi, bumi juga mengalami revolusi, yaitu peredaran Bumi mengelilingi Matahari. Waktu yang diperlukan bumi untuk satu kali putaran penuh (rotasi) ialah 24 jam. Sambil berotasi, bumi beredar mengelilingi matahari. Peredaran bumi mengelilingi matahari membentuk suatu bidang yang disebut ekliptika. Waktu yang diperlukan bumi untuk satu kali beredar penuh (revolusi) ialah 365 hari. Pada kenyataannya, poros bumi dalam peredaran mengelilingi matahari selalu miring 66½° terhadap bidang ekliptika. Karena letaknya sangat jauh, sinar matahari yang datang ke permukaan bumi arahnya sejajar. Garis-garis dan angka 66½° atau 23½° tersebut menunjukkan posisi datangnya sinar matahari yang berdampak pada iklim suatu tempat di mumi. Jadi, garis-garis dan angka 66½° atau 23½° menunjukkan keadaan iklim suatu tempat di bumi. Garis lintang menandakan perbedaan zona iklim di bumi. Daerah di antara garis Khatulistiwa, 23 ½° LU – 23 ½° LS, disebut daerah tropis karena di sanalah sepanjang waktu matahari bersinar pada siang hari. Di daerah ini hanya dikenal 2 musim, yaitu musim panas dan penghujan. Sementara daerah antara 23 ½° LU dan 66 ½° LU serta antara 23 ½° LS dan 66 ½° LS disebut daerah subtropis. Di daerah ini dapat terjadi 4 musim, yaitu musim panas, musim gugur, musim dingin, dan musim semi.
Gambar 4.4 Pembagian iklim berdasarkan garis lintang
Gambar 4.4 Pembagian iklim berdasarkan garis lintang
4. Skala Peta
Untuk dapat memperoleh informasi yang tepat dalam membaca peta, atlas, dan globe, satu hal penting yang harus diketahui ialah skala yang digunakan. Dalam geografi, skala peta diartikan sebagai perbandingan jarak antara dua titik di peta dan jarak dua titik di lapangan (jarak sebenarnya). Skala peta biasanya menggunakan satuan cm atau inci.
Apa gunanya skala?
Skala berguna untuk membuat peta, mengubah ukuran peta (memperbesar atau memperkecil), dan mengetahui jarak dan luas sebenarnya dari suatu objek geografi. Dengan adanya skala, semua wilayah di permukaan bumi yang jaraknya ribuan kilometer maupun luasnya jutaan kilometer dapat digambar dalam sehelai kertas.
Apa saja jenis skala?
Ditinjau dari cara penulisannya ada tiga jenis skala, yaitu skala angka atau numerik, skala garis, dan skala kata.
(1) Skala angka/numerik
Skala yang dibentuk dengan angka.
Contoh: 1 : 10.000 artinya 1 cm pada peta sama dengan 10.000 cm di lapangan.
(2) Skala garis
Skala yang dibentuk dengan garis, tetapi pada garis ada perbandingan satuan.
Image:Manusia_Perkem_Lingk_9.jpg
Artinya, ukuran pada garis 1 cm di atas sama dengan garis 5 km di lapangan.
(3) Skala kata
Skala yang dibentuk dengan kata, tetapi kata-kata tersebut menunjukkan perbandingan jarak pada peta dan jarak datar di lapangan, misalnya 1 cm sama dengan 1 km.
Ditinjau dari ukurannya, terdapat berbagai ukuran skala seperti berikut.
Tabel 4.3 Jenis dan Ukuran Skala
Tabel 4.3 Jenis dan Ukuran Skala
Perhatikanlah skala yang tertulis pada sebuah peta. Misalnya, tertulis 1: 10.000. Artinya, 1 cm pada peta sama dengan 10.000 cm di lapangan. Dengan demikian, berdasarkan tabel di atas, makin kecil angka, makin besar skala; makin besar angka, makin kecil skala.
Perhatikan contoh berikut.
Jarak antara Kota Damai dan Kota Tenang di peta ialah 15 cm.
Jarak sesungguhnya antara Kota Damai dan Kota Tenang adalah 15 km = 1. 500.000
cm. Berapa skala peta tersebut?
5. Ayo Memperbesar dan Memperkecil Peta
Kamu tentunya pernah membuat pas foto. Pas foto tersebut ada yang berukuran 3 x 4 cm, 4 x 6 cm, atau berukuran kartu pos. Itulah contoh perbedaan ukuran yang dapat kamu lihat di lingkungan sekitarmu. Kalau memperbesar atau memperkecil pas foto dilakukan oleh mesin, memperbesar dan memperkecil peta dapat kamu lakukan sendiri.
Bagaimana cara memperbesar atau memperkecil peta?
Memperbesar atau memperkecil skala peta ialah mengubah ukuran peta dasar. Perubahan ini menyebabkan perubahan skala peta. Artinya, makin besar perubahan ukuran peta, makin besar skala; makin kecil perubahan ukuran peta, makin kecil skala peta. Memperbesar atau memperkecil skala peta dapat dilakukan dengan beberapa cara: memfotokopi, menggunakan pantograf (alat yang biasa digunakan kartograf untuk memperbesar/memperkecil peta), dan menggunakan sistem petak. Pada kesempatan ini kita akan memperbesar atau memperkecil peta dengan menggunakan sistem petak.
Contoh:
Sebuah peta berskala 1:10.000.
Jika peta diperbesar 2x , ukuran skalanya berubah menjadi 1: 5.000
Jika peta diperkecil 2x , ukuran skalanya menjadi 1:20.000
Memperbesar atau memperkecil peta secara sederhana dapat kita lakukan dengan bantuan garis kotak-kotak berukuran sama. Untuk lebih memahami bagaimana memperbesar atau memperkecil peta dengan sistem kotak tersebut, lakukanlah kegiatan memperbesar peta berikut.
1. Kita akan mengubah sebuah peta berskala 1:10.000. Buat garis grid secara vertikal dan horizontal pada peta asli (Gambar 4.5) dengan jarak tertentu, misalnya 1 cm.
2. Buat garis grid secara vertikal dan horizontal pada kertas lain dengan jarak lebih besar dari peta asal, misal 2 cm.
3. Gambar peta asli pada kertas yang sudah dibuat gridnya dengan ukuran 2 cm.
4. Ubah skala pada peta yang sudah diperbesar. Caranya:
– Ukur jarak pada peta asal dari pojok kiri sampai pojok kanan adalah 7 cm.
– Ukur jarak pada peta baru dari pojok kiri sampai pojok kanan adalah 14 cm
– skala peta baru adalah = 7/14 × 10.000 = 5.000
5. Maka peta baru tersebut mempunyai skala 1 : 5.000

DR - BeSmart


-Semoga Bermanfaat-

Jumat, 19 Agustus 2016

Sumber Arus Listrik dan Energi Listrik


A. Sumber Arus Listrik

Sumber arus listrik adalah benda-benda yang dapat menghasilkan arus listrik, contohnya baterai, akumulator, elemen Volta, elemen Daniell, dan elemen Weston. Mobil-mobilan dapat bergerak karena memperoleh energi listrik dari baterai, lampu senter dapat digunakan setelah dipasang baterai ke dalamnya.

1. Gaya Gerak Listrik
Semua sumber arus listrik memiliki kemampuan memberikan gaya pada elektron sehingga elektron dari sebuah atom materi dapat bergerak. Gaya dari sumber baterai yang demikian disebut sebagai gaya gerak listrik (ggl). 

Baca Juga:
Gaya gerak listrik sering juga disebut tegangan. Satuan gaya gerak listrik adalah volt (V). Ggl diberi lambang E. Misal pada kulit luar baterai tercantum label 1,5 V, ini menunjukkan besarnya ggl yang dibangkitkan oleh baterai tersebut. Jadi, ggl merupakan beda potensial antara kutub-kutub sebuah sumber listrik (baterai) saat sumber tidak mengalirkan listrik (saklar terbuka).

2. Elemen Primer
Berdasarkan kemampuannya memberikan gaya gerak listrik, sumber arus listrik dibedakan menjadi elemen primer dan elemen sekunder. Baterai yang digunakan oleh jam dinding merupakan elemen primer.

Elemen primer merupakan sebuah sumber arus listrik. Elemen primer merupakan sumber arus listrik yang bersifat sekali pakai. Artinya jika sumber arus tersebut sudah habis energinya, kamu tidak dapat mengisi elemen primer. Kamu harus mengganti sumber arus listrik tersebut dengan sumber arus yang baru.

a. Baterai
Baterai merupakan elemen kering. Jika diamati, baterai memiliki dua kutub yaitu kutub positif dan kutub negatif. Kutub positif baterai berupa batang karbon yang dibenamkan ke dalam campuran mangan dioksida (MnO2) dan amonium klorida (NH4Cl). Kutub negatif baterai adalah lapisan paling luar yang terbuat dari seng (Zn). 



Gambar di atas adalah gambar baterai yang mempunyai kutub positif dan kutub negatif. Campuran mangan dioksida berfungsi sebagai zat pelindung elektrolit. Di antara lapisan paling luar yaitu seng berfungsi sebagai kutub negatif dan campuran mangan dioksida terdapat pasta amonium klorida yang berfungsi sebagai elektrolit. Di antara kutub positif dan kutub negatif ini terdapat beda potensial. Beda potensial inilah yang menyebabkan baterai tersebut dapat mengalirkan arus listrik jika dipasangkan secara benar dalam sebuah rangkaian. Suatu saat, karbon dan elektrolit dari baterai akan habis sehingga baterai tersebut tidak dapat menghasilkan arus listrik. Baterai termasuk sumber arus listrik yang tidak dapat diisi ulang.
Dengan adanya arus listrik ini, kamu akan dipermudah memperoleh sumber energi listrik yang dapat dibawa ke mana-mana, sehingga akan lebih mudah dan praktis. Baterai masih banyak digunakan pada jam dinding, radio, lampu senter, dan sebagainya.
Penyempurnaan dari sel seng karbon adalah baterai alkalin. Ukuran, bentuk, dan tegangannya mirip dengan sel seng karbon, tetapi jika digunakan dalam suatu peralatan, sel alkalin dapat bertahan enam atau tujuh kali lebih lama dibanding sel seng karbon biasa. Dalam sel alkalin mengandung elektrolit larutan kalium hidroksida. Pelat logamnya terbuat dari nikel dan senyawa kadmium.

b. Elemen Volta
Elemen volta ini kali pertama ditemukan oleh Alessandro Volta (1745 – 1827) seorang ahli Fisika berkebangsaan Italia. Elemen volta adalah sel elektrokimia yang dapat menghasilkan arus listrik. Gambardi bawah ini memperlihatkan sebuah elemen volta.
Elemen volta terdiri atas tabung kaca yang berisi larutan asam sulfat (H2SO4) dan sebagai anoda adalah logam Cu (tembaga) sedangkan kutub negatif adalah Zn (seng). Jika elektroda-elektroda seng dan tembaga dimasukkan ke dalam larutan asam sulfat, akan terjadi reaksi kimia yang menyebabkan lempeng tembaga bermuatan listrik positif dan lempeng seng bermuatan listrik negatif. Hal ini menunjukkan bahwa lempeng tembaga memiliki potensial lebih tinggi daripada potensial lempeng seng. Elektron akan mengalir dari lempeng seng menuju lempeng tembaga. Jika kedua lempeng ini dirangkaikan dengan lampu, arus akan mengalir dari lempeng tembaga ke lempeng seng sehingga lampu akan menyala. Namun, aliran arus listrik ini tidak berlangsung lama sehingga lampu akan padam. Hal ini dikarenakan gelembung-gelembung gas hidrogen yang dihasilkan oleh asam sulfat (H2SO4) akan menempel pada lempeng tembaga. Gelembung gas hidrogen ini akan menghambat aliran elektron. Kamu telah mengetahui bahwa arus listrik adalah aliran elektron-elektron sehingga jika aliran elektron ini terhambat, tidak akan ada arus yang mengalir. Peristiwa ini disebut polarisasi. Dengan kata lain, polarisasi adalah peristiwa tertutupnya elektroda elemen oleh hasil reaksi yang mengendap pada elektroda tersebut. Namun demikian, ide Volta inilah yang menjadi prinsip dalam
pembuatan baterai dan aki.

c. Elemen Daniell
Cara kerja elemen daniell pada dasarnya sama dengan cara kerja elemen volta. Namun pada elemen daniell ditambahkan larutan tembaga sulfat (CuSO4) untuk mencegah terjadi polarisasi, yang dinamakan depolarisator sehingga usia elemen dapat lebih lama. Perhatikan diagram sel daniell pada gambar di bawah ini.


3. Elemen Sekunder

Tidak seperti elemen primer, elemen sekunder bersifat dapat diperbaharui. Artinya tegangan yang berasal dari elemen sekunder suatu saat akan habis, tetapi kamu masih dapat mengisi elemen tersebut. Contoh elemen sekunder adalah akumulator. Akumulator banyak digunakan dalam kendaraan bermotor seperti sepeda motor dan mobil.
Akumulator disebut juga elemen basah. Akumulator terdiri atas pasangan-pasangan keping timbal dan timbal dioksida. Pasangan ini disebut sel (Gambar di bawah). Setiap pasangan timbal dan timbal dioksida ini mampu memberikan tegangan 2 volt. Kapasitas penyimpanan sebuah aki dapat terlihat berupa tulisan angka pada aki. Contoh, pada aki tertulis 12V 40 AH, artinya aki mempunyai ggl 12 volt dan mengalirkan arus listrik 40 ampere selama 1 jam. 




Sama seperti pada baterai, akumulator juga mempunyai dua buah kutub, yaitu kutub positif dan kutub negatif. Kutub negatif terletak pada timbal dan kutub positif pada timbal dioksida. Timbal dan timbal dioksida dicelupkan ke dalam larutan elektrolit asam sulfat. Keuntungan pemakaian elemen sekunder misalnya akumulator yaitu dapat diperbaharui. Agar akumulator dapat berfungsi kembali, perlu dimuati oleh sumber arus searah (DC).
Perubahan energi saat aki digunakan yaitu dari energi kimia menjadi energi listrik. Sedangkan saat pengisian aki terjadi perubahan energi dari energi listrik menjadi energi kimia. Cara pengisian aki adalah sebagai berikut.
a. Hubungkan dengan sumber tegangan arus DC yang beda potensialnya lebih tinggi dari aki tersebut.
b. Arus yang mengalir kecil sehingga perlu waktu lebih lama. Hal ini bertujuan agar tidak merusakkan sel aki.
c. Ukur konsentrasi larutan dengan hidrometer.
d. Perhatikan ukuran kapasitas akinya dengan amperejam.

4. Tegangan Listrik

Tegangan listrik adalah beda potensial antara dua buah kutub sumber tegangan. Alat untuk mengukur tegangan disebut voltmeter. Selain tegangan antara kutub-kutub sumber tegangan, setiap alat listrik dalam sebuah rangkaian tertutup akan mempunyai tegangan yang dapat diukur dengan voltmeter.
Tegangan ini disebut tegangan jepit. Jadi tegangan jepit merupakan beda potensial antara kutub-kutub sebuah sumber arus listrik ketika sumber mengalirkan arus listrik. Misalkan sebuah sumber 12 V digunakan untuk menyalakan sebuah lampu, ukurlah potensial listrik lampu tersebut dengan cara memasangkan voltmeter secara paralel dengan lampu. Tegangan yang terbaca pada voltmeter ini merupakan tegangan jepit atau tegangan terpakai oleh alat. Nilai tegangan jepit tergantung pada nilai hambatan bebannya. Makin besar nilai hambatan bahan makin kecil nilai tegangan jepitnya.

B. Energi Listrik

Dalam kehidupan sehari-hari, energi listrik dapat diubah menjadi energi kalor, energi cahaya, dan energi gerak. Nah, agar kamu lebih memahami bagaimana perubahan bentuk energi listrik dan alat-alat yang memanfaatkan energi listrik.

1. Perubahan Energi Listrik Menjadi Energi Kalor

Perubahan energi listrik menjadi energi kalor dapat diamati pada alat-alat seperti setrika listrik, kompor listrik, solder, dan teko listrik.
Alat-alat tersebut dapat menghasilkan kalor karena memiliki elemen pemanas. Elemen pemanas merupakan sejenis hambatan listrik. Ketika
elemen pemanas dialiri arus listrik selama waktu tertentu, maka sebagian arus listrik ini akan berubah menjadi energi kalor. Adanya energi kalor menyebabkan benda-benda yang berhubungan dengan konduktor elemen pemanas, seperti pakaian pada setrika listrik, bahan makanan pada kompor listrik, timah pada solder, dan air pada teko listrik, akan mengalami kenaikan suhu.
Elemen pemanas biasanya terbuat dari kawat nikrom yang dililitkan pada lempeng isolator tahan panas, seperti asbes mika. Seluruh bagian lilitan ini ditutupi lagi dengan bahan isolator yang tahan panas, seperti keramik. Alat-alat listrik tersebut aman untuk disentuh karena bagian elemen pemanas telah disekat dengan isolator tahan panas. Besarnya kalor yang dihasilkan elemen pemanas tergantung pada panjang kawat, luas penampang kawat, dan jenis kawat.

2. Perubahan Energi Listrik Menjadi Energi Cahaya
Alat yang dapat mengubah energi listrik menjadi energi cahaya adalah lampu. Saat ini ada dua jenis lampu yang banyak digunakan, yaitu lampu pijar dan lampu neon atau lampu tabung.
Lampu pijar terbuat dari bahan filamen yang digulung menyerupai spiral. Filamen ini dipasang dalam bola kaca yang berisi gas nitrogen dan argon. Perhatikan bagian-bagian lampu pijar pada Gambar di bawah ini.
Filamen pada lampu pijar terbuat dari kawat tungsten yang sangat tipis dan digulung menjadi spiral rangkap. Ketika dialiri arus listrik, filamen lampu ini berpijar sampai berwarna putih sehingga lampu memancarkan cahaya. Selain memancarkan cahaya, sebagian energi listrik yang mengalir melalui filamen lampu ini diubah menjadi kalor. Hal ini menyebabkan lampu pijar terasa panas saat kamu sentuh.
Tungsten dipilih sebagai filamen karena bahan ini tahan panas, titik leburnya mencapai 3.400° C, sehingga tungsten dapat berpijar tanpa melebur. Oleh karena filamen lampu mudah terbakar di udara, maka di dalam bola kaca lampu pijar diisi gas argon dan gas nitrogen. Gas ini tidak bereaksi dengan logam panas sehingga filamen tidak terbakar.
Lampu TL (tube luminescent) memiliki cara kerja yang berbeda dengan lampu pijar. Di dalam lampu TL tidak terdapat filamen, seperti pada lampu pijar. Lampu TL terdiri atas tabung kaca yang hampir hampa udara dan berisi uap raksa. Di ujungujung lampu TL terdapat elektroda yang diberi beda potensial yang cukup tinggi. Perbedaan beda potensial ini menghasilkan loncatan bunga api listrik di antara kedua elektroda sehingga gas yang ada di dalam lampu TL memancarkan cahaya. Cahaya
tersebut mengenai lapisan fosfor yang ada dalam tabung lampu TL sehingga lapisan fosfor memendar dan lampu terlihat mengeluarkan cahaya.
Lampu TL merupakan lampu yang hemat energi. Karena lampu TL dapat mengubah 60% energi listrik menjadi energi cahaya dan 40% lainnya menjadi energi kalor. Hal ini berbeda dengan lampu pijar yang hanya mengubah 10% energi listrik menjadi energi cahaya.

3. Perubahan Energi Listrik Menjadi Energi Gerak

Alat-alat yang mengubah energi listrik menjadi energi gerak, di antaranya kipas angin, bor listrik, gergaji listrik, dan mesin jahit listrik. Bagaimana alat-alat tersebut dapat mengubah energi listrik menjadi energi gerak? Alat-alat tersebut dapat mengubah energi listrik menjadi energi gerak dengan bantuan motor listrik. Perubahan energi listrik menjadi energi gerak pada motor listrik dimulai dengan perubahan energi listrik menjadi induksi magnet. Induksi magnet inilah yang menyebabkan poros atau as pada alat-alat listrik bergerak.

4. Hubungan Tegangan, Kuat Arus, dan Energi Listrik
Ketika lampu 3 volt dihubungkan dengan sumber tegangan sebesar 6 volt, lampu tersebut akan menyala sangat terang. Sebaliknya, jika lampu tersebut dihubungkan dengan sumber tegangan 1,5 volt, lampu akan menyala redup. Berdasarkan uraian tersebut, besarnya energi listrik sangat bergantung pada tegangan listrik.
Energi listrik sebanding dengan tegangan listrik (V), kuat arus listrik (I), dan waktu (t). Secara matematis pernyataan tersebut dapat dinyatakan sebagai berikut.

W=V.I.t

Kamu telah mempelajari Hukum Ohm yang menyatakan bahwa:

I=V/R atau V=I.R

Sehingga dapat ditulis menjadi: 



5. Penghematan Energi
Energi listrik yang kita nikmati sehari-hari pada umumnya berasal dari bahan bakar fosil, seperti gas, batubara, dan minyak bumi. Ketersediaan bahan bakar fosil tersebut pada umumnya sangat terbatas. Artinya, suatu saat kita akan kehabisan bahan bakar fosil. Hal penting yang harus dilakukan adalah mulai dengan segera melakukan penghematan energi, termasuk di antaranya penghematan energi listrik.
Hal-hal yang dapat kita lakukan untuk menghemat energi listrik di rumahmu adalah sebagai berikut.
Tidak menyalakan lampu di siang hari.
Mematikan televisi jika tidak ditonton.
Mematikan alat-alat listrik setelah selesai dipakai.
Menggunakan lampu hemat energi seperti lampu neon.
Memakai alat-alat listrik yang mempunyai daya rendah.

C. Daya Listrik

Watt merupakan satuan daya listrik. Daya listrik adalah banyaknya energi listrik yang terpakai setiap sekonnya. Satuan daya listrik adalah watt, 1 watt = 1 joule/sekon. Secara matematis, persamaan daya listrik dinyatakan sebagai berikut.


PLN menggunakan kWh meter untuk mengukur penggunaan energi listrik oleh konsumen dalam satuan kilowatt jam (kWh = kilowatt hour). Satu kWh adalah besarnya energi listrik yang digunakan selama 1 jam dengan daya listrik sebesar 1.000 watt.
-Semoga Bermanfaat-