Kamis, 11 Agustus 2016

Menganalisis, Mengevaluasi, Menata Struktur Teks Pantun

DR
Menganalisis Isi Teks Pantun


Analisa atau analisis adalah kajian yang dilaksanakan terhadap sebuah bahasa guna meneliti struktur bahasa tersebut secara mendalam.



https://zulfaworld.files.wordpress.com/2016/01/pantun1.jpg


Maka dapat di ambil contoh pada
 

Puisi Lama
  • Dinding habis rumah tlah usang
  • Tonggaklah tepuk semuanya.
  • Tukang pedati tidak menenggang,
  • Rumput mati diberikannya.


A. Tema dan Amanat
Tema pantun ialah “orang yang kikir” , amanat ialah Janganlah pelit kepada orang lain. Kalau mau memberikan suatu bantuan atau apapun kepada orang lain, usahakan yang diberikan itu layak untuk diberikan.
 
B. Citra/Pengimajian
Citra/Pengimajian dalam pantun di atas adalah citra penglihatan dilihat dari baris “rumput mati diberikannya”. Citra penglihatan mampu memberi rangsangan kepada indra penglihatan sehingga hal-hal yang tidak terlihat menjadi seolah-olah terlihat dari kata ‘rumput mati’.
 
C. Rima
Rima pantun ialah a b, a b
  • Dinding habis rumah tlah usang
  • Tonggaklah tepuk semuanya.
  • Tukang pedati tidak menenggang,
  • Rumput mati diberikannya.


D. Diksi
Pantun di atas terdiri dari 4 baris. Baris pertama dan kedua merupakan sampiran, sedangkan baris ketiga dan keempat merupakan isi pantun. Pemilihan kata yang digunakan dalam pantun di atas bermakna konotatif atau tidak sebenarnya.
 
E. Irama Irama pantun sedang. Cara membacanya dipenggal menjadi dua bagian yang sama. Misalnya, pada baris yang berbunyi Dinding habis rumah tlah usang dibacanya dipenggal menjadi Dinding habis /rumah tlah usang. Di antara penggalan itu, pembaca perlu jeda (berhenti) agak lama, dengan intonasi tertentu, kemudian melanjutkan penggalan berikutnya.

F. Sudut Pandang
Pantun berisi nasehat. Nasehat umumnya diberikan dari orang yang sudah dewasa atau orang tua kepada orang yang muda atau anak-anak. Jadi, sudut pandang pantun di atas ialah orang kedua.
Mengevaluasi Teks Pantun

Evaluasi adalah proses terencana untuk mengetahui keadaan suatu objek dengan menggunakan kriteria tertentu
- Kriteria pantun ialah
  • Struktur isi 
  • Kaidah bahasa
- Hubungan antara sampiran dan isi dalam sebuah pantun, tidak hanya terletak pada kesamaan rima: a-b-a-b, akan tetapi juga terletak pada kandungan maknanya.
- Evaluasi pantun bertujuan untuk memberi penilaian pada pantun. Penilaian berdasarkan struktur, kaidah pantun, dan pesan isi dari pantun
Hujan turun langitpun kelam
Tak ada pohon untuk berteduh 
Hati sakit bertambah dendam
Kecewa yang lalu belumlah sembu

Menata Struktur Teks Pantun
Dari rangkaian teks pantun, dapat dilihat kemahiran pelantunannya dalam pemilihan kata yang digunakan. Pemilihan dan penyusunan kata yang dilakukan sedemikian rupa dengan memberikan rima dan ritme yang sepadan akan menghasilkan keindahan bunyi yang sempurna. Bila setiap kata dalam pantun saling dipertukarkan letaknya, atau diganti dengan kata lain dengan makna yang sama, pasti akan menimbulkan kekacauan bunyi
 
- Selain bentuk empat baris, ada pantun yang terdiri atas dua baris, enam baris, delapan baris, dan bentuk berkait. Seperti yang terlihat pada contoh berikut.

Kura-kura dalam perahu, --> sampiran
pura-pura tidak tahu. --> isi

- Pantun tersebut merupakan pantun yang terdiri atas dua larik atau baris dan bersajak a-a. Pantun itu dikenal dengan sebutan karmina atau pantun kilat. Larik pertama pada pantun itu merupakan sampiran dan larik keduanya merupakan isi.

Sudah gaharu cendana pula, --> sampiran
sudah tahu bertanya pula. --> isi

- Bentuk pantun lainnya yang perlu kalian ketahui adalah pantun berkait. Pantun berkait ini merupakan pantun yang terdiri atas beberapa bait yang sambung-menyambung. Larik kedua dan keempat pada setiap baitnya menjadi larik pertama dan ketiga bait berikutnya. Jadi, struktur pantun berkait sangat kompleks dan unik. perhatikan contoh berikut.

Manggistan namanya kayu,
daunnya luruh menelentang.
Mahkota Raja Melayu,
turun dari bukit Seguntang.
Pulau Pandan jauh ke tengah,
Gunung Daik bercabang tiga.
Hancur badan dikandung tanah,
budi yang baik dikenang juga.


Menurut kalian, apakah pada pantun diatasmasih terlihat struktur dasar sebuah pantun, yaitu adanya sampiran dan isi?



Setelah kalian mengamati struktur pantun berkait di atas dengan cermat, tentu kalian menemukan keunikannya. Coba kalian cermati larik kedua sampiran bait pertama akan menjadi larik pertama sampiran bait kedua, larik keempat bagian isi bait pertama akan menjadi larik ketiga isi bait kedua. Demikian selanjutnya struktur yang sama berlaku pada bait ketiga dan keempat. Itulah sebabnya dikatakan bahwa struktur pantun berkait lebih kompleks dan unik.

Bait I dan bait II merupakan satu kesatuan stanza (kumpulan larik sajak yang menjadi satuan struktur sajak) yang utuh dengan mengusung satu ide. Begitu pula halnya dengan bait III dan bait IV. Jadi, setiap satu pantun berkait itu setidaknya terdiri atas dua bait yang berisi delapan baris.

Dari berbagai uraian pengembangan struktur dasar teks pantun dalam beberapa jenis pantun yang berbeda, seperti karmina, talibun, dan pantun berkait, dapat diambil kesimpulan bahwa separuh pertama dari jumlah baris yang ada pada setiap pantun merupakan sampiran, dan separuh lainnya adalah isi. bahwa setiap pantun pasti memiliki jumlah baris yang genap, sebab setiap sampiran selalu mempunyai pasangan isi.

-Semoga Bermanfaat- 

1 komentar:

  1. Makasih, lengkap sekali penjelasannya, Analisis dan evaluasi diperlukan dalam kehidupan sehari-hari terutama dalam tugas-tugas kognitif seperti pemahaman dan pengambilan keputusan yang cerdas. Analisis dan evaluasi juga terlibat dalam ilmu data karena berurusan dengan mengkritik bukti. Selain itu, keduanya bekerja bahu membahu karena analisis diperlukan untuk menghasilkan evaluasi yang efisien. Dengan demikian, proses yang saling terkait ini terbukti dalam cara kita memahami dan menghargai informasi.

    BalasHapus